Nama: Dwi Agus S
Nim: 30814092
Kelas: 4.2 ES
METODE ANALISIS AKAR MASALAH
1. EVENT TREE ANALYSIS
Event tree analysis adalah teknik analisis untuk
mengidentifikasi dan mengevaluasi susunan peristiwa dalam skenario kecelakaan
yang potensial. ETA menggunakan struktur pohon logika visual yang dikenal
sebagai pohon kejadian (ET). Tujuan dari ETA adalah untuk menentukan apakah
suatu kejadian akan berkembang menjadi sebuah kecelakaan serius atau jika
peristiwa tersebut dapat dikendalikan oleh sistem keselamatan dan prosedur yang
diterapkan dalam desain sistem. ETA dapat menghasilkan berbagai kemungkinan
hasil keluaran dari sebuah kejadian awal, dan dapat memprediksi kemungkinan
terjadinya kecelakaan untuk setiap hasil keluaran.
Definisi-definisi pada Teknik ETA Accident
scenario
Serangkaian kejadian yang akhirnya
mengakibatkan kecelakaan. Urutan kejadian dimulai dengan kejadian awal (pemicu)
dan biasanya diikuti oleh satu atau lebih peristiwa penting lainnya yang akhirnya
mengarah pada keadaan akhir yang tidak diinginkan (terjadi sebuah kecelakaan).
Initiating event (IE)
Kesalahan atau peristiwa yang tidak
diinginkan yang memulai awal dari rangkaian kecelakaan.IE dapat mengakibatkan
kecelakaan tergantung pada sukses tidaknya pelaksanaan metode penanggulangan
bahaya yang dirancang ke dalam sistem.
Pivotal events
Peristiwa perantara penting yang terjadi
antara kejadial awal dan kecelakaan akhir. PE merupakan kejadian gagal maupun
sukses dari metode keselamatan yang ditetapkan untuk mencegah IE agar tidak
mengakibatkan sebuah kecelakaan. Jika peristiwa penting bekerja dengan sukses,
itu menghentikan kecelakaan skenario dan disebut sebagai peristiwa meringankan.
Jika peristiwa penting gagal bekerja, maka skenario kecelakaan diperbolehkan untuk
kemajuan dan disebut sebagai acara memberatkan.
Probabilistic risk assessment (PRA)
Metode analisis yang komprehensif,
terstruktur, dan logis untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi risiko pada
system teknologi yang kompleks. Tujuan PRA adalah identifikasi secara
terperinci dan penilaian skenario kecelakaan dengan analisis kuantitatif.
Event tree (ET)
Contoh nya seperti PT. Purba Karya Baja merupakan perusahaan
konstruksi
engineering
di
Indonesia yang melakukan pembuatan alat-alat berbahan dasar baja untuk industri
manufaktur yang mebutuhkan spesifikasi khusus pada setiap konstruksinya. Karena
banyaknya proses pemesinan yang
dilakukan pada lantai produksi, menimbulkan kemungkinan terjadinya kecelakaan
kerja yang mengakibatkan terhentinya proses produksi yang sedang berlangsung
sehingga mengurang produktivitas perusahaan tersebut. Untuk menghindari
kecelakaan kerja tersebut, maka dilakukan penelitian dengan menggunakan Event
Tree Analysis. Event tree analysis adalah teknik analisis untuk
mengidentifikasi dan mengevaluasi urutan peristiwa dalam skenario kecelakaan
yang potensial. Dengan menggunakan
metode ini, dapat dievaluasi kemungkinan hasil-hasil yang diperoleh (possible
outcomes) bila terjadi suatu kejadian awal (initiating event) karena kegagalan
peralatan atau kesalahan manusia (Center for Chemical Process Safety, 1992).
2. FAULT TREE ANALYSIS
Perkembangan dunia keselamatan kerja kini
semakin pesat. Begitu banyak ilmu, referensi, standard dan metode-metode yang
baru guna terciptanya tempat kerja yang semakin selamat dan sehat. Hal-hal baru
tersebut justru lahir dari sesuatu yang paling tidak diharapkan oleh para ahli
K3, yaitu kecelakaan kerja.
belajar dari kecelakaan kerja setelah
melakukan analisis mendalam tentang penyebab dasar kecelakaan tersebut.
Kemudian terciptalah terobosan-terobosan baru guna mencegah agar kecelakaan
yang sama tidak terulang kembali. Maka analisis kecelakaan kerja menjadi
penting agar kita bisa melakukan peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja di
tempat kita. Salah satu metode analisis kecelakaan kerja adalah dengan metode
Fault Tree Analysis.
Fault Tree analysis (FTA) adalah Sebuah
tekhnik untuk menghubungkan beberapa rangkaian kejadian yang menghasilkan
sebuah kejadian lain. Metode ini menggunakan pendekatan deduktif yang mencari
penyebab dari sebuah kejadian. Metode ini dipakai untuk investigasi kecelakaan
kerja dengan cara menganalisis penyebab langsung hingga penyebab dasar dari
kecelakaan kerja itu sendiri.
Literatur
FTA banyak menyebutkan tentang simbol-simbol penyebab serta gerbang penghubung
(Gates) yang terdiri dari Gerbang “Dan” serta “Atau”.
Untuk memudahkan dalam memahami Fault Tree
Analysis Kecelakaan Kerja simak contoh studi kasus berikut:
“DI sebuah kantor, seorang pekerja
mendapatkan retak tulang di tangan dan kaki setelah ia terjatuh dari tangga
kantor dan kepalanya membentur anak tangga. Dari hasil investigasi ditemukan
fakta bahwa ia terpeleset di tangga akibat adanya tumpahan air di tangga dari
minuman karyawan lain.
Kantor dia memiliki jasa kebersihan
(cleaning service) untuk membersihkan ceceran air. Namun, tidak ada seorangpun
yang meminta operator jasa kebersihan untuk membersihkan tumpahan tersebut
meski sudah banyak yang mengetahuinya. Karyawan yang menumpahkan air pun
sebenarnya tahu kalau airnya tumpah, namun ia lupa untuk melaporkan ke jasa
kebersihan.
Dari pengakuan korban, ia menuturkan bahwa
ia tidak memegang handrail di saat naik dan turun tangga meski terdapat
handrail (pegangan tangga) di setiap sisi tangga namun dari pengamatan, hanya 1
dari 10 orang yang memegang handrail saat naik dan turun tangga. Ternyata,
memang tidak ada instruksi atau rambu khusus yang memerintahkan untuk memegang
handrail tangga.”
Setelah dilakukan pembahasan RCA oleh tim
pekerja kantor, maka hasil RCA dengan menggunakan fault tree menjadi seperti
ini:
Dari RCA di atas, dapat disimpulkan
penyebab dasar dari kecelakaan di atas adalah Pekerja Tidak Menyadari Bahaya
Tumpahan Air di tangga dan Tidak ada program untuk pegang handrail di tangga.
3. FAILURE MODE & EFFECTS ANALYSIS
FMEA (failure mode and effect analysis)
adalah suatu bhprosedur terstruktur untuk mengidentifikasi dan mencegah sebanyak
mungkin mode kegagalan (failure mode). FMEA digunakan untuk mengidentifikasi
sumber-sumber dan akar penyebab dari suatu masalah kualitas. Suatu mode
kegagalan adalah apa saja yang termasuk dalam kecacatan/kegagalan dalam desain,
kondisi diluar batas spesifikasi yang telah ditetapkan, atau perubahan dalam
produk yang menyebabkan terganggunya fungsi dari produk itu.
Terdapat dua penggunaan FMEA yaitu dalam
bidang desain (FMEA Desain) dan dalam proses (FMEA Proses). FMEA Desain akan
membantu menghilangkan kegagalan-kegagalan yang terkait dengan desain, misalnya
kegagalan karena kekuatan yang tidak tepat, material yang tidak sesuai, dan
lain-lain. FMEA Proses akan menghilangkan kegagalan yang disebabkan oleh perubahan-perubahan
dalam variabel proses, misal kondisi diluar batas-batas spesifikasi yang
ditetapkan seperti ukuran yang tidak tepat, tekstur dan warna yang tidak
sesuai, ketebalan yang tidak tepat, dan lain-lain.
Para
ahli memiliki beberapa definisi mengenai failure modes and effect analysis,
definisi tersebut memiliki arti yang cukup luas dan apabila dievaluasi lebih
dalam memiliki arti yang serupa. Definisi failure modes and effect analysis
tersebut disampaikan oleh :
Menurut Roger D. Leitch, definisi
dari failure modes and effect analysis adalah analisa teknik yang apabila
dilakukan dengan tepat dan waktu yang tepat akan memberikan nilai yang besar
dalam membantu proses pembuatan keputusan dari engineer selama perancangan dan
pengembangan. Analisa tersebut biasa disebut analisa “bottom up”, seperti
dilakukan pemeriksaan pada proses produksi tingkat awal dan mempertimbangkan
kegagalan sistem yang merupakan hasil dari keseluruhan bentuk kegagalan yang berbeda.
Menurut John Moubray, definisi dari failure
modes and effect analysis adalah metode yang digunakan untuk mengidentifikasi
bentuk kegagalan yang mungkin menyebabkan setiap kegagalan fungsi dan untuk
memastikan pengaruh kegagalan
berhubungan dengan setiap bentuk kegagalan.
FMEA merupakan alat yang digunakan untuk
menganalisa keandalan suatu sistem dan penyebab kegagalannya untuk mencapai
persyaratan keandalan dan keamanan sistem, desain dan proses dengan memberikan
informasi dasar mengenai prediksi keandalan sistem, desain, dan proses.
Terdapat tiga tipe utama FMEA yaitu:
- System FMEA: Digunakan untuk menganalisa
keseluruhan sistem atau sub-sistem pada saat penyusunan konsep di fase Design
(dalam siklus DMAIC)
- Design FMEA: Digunakan untuk menganalisa
rancangan produk sebelum dirilis/diproduksi oleh manufaktur.
- Process FMEA: Jenis yang paling sering
digunakan, dan di banyak kasus merupakan metode yang paling mudah diterapkan
dibanding dua jenis lainnya.
Berikut ini adalah tujuan yang dapat
dicapai oleh perusahaan dengan penerapan FMEA:
- Untuk mengidentifikasi mode kegagalan dan
tingkat keparahan efeknya
- Untuk mengidentifikasi karakteristik
kritis dan karakteristik signifikan
- Untuk mengurutkan pesanan desain
potensial dan defisiensi proses
- Untuk membantu fokus engineer dalam
mengurangi perhatian terhadap produk dan proses, dan membentu mencegah
timbulnya permasalahan.
Bagaimana Melakukan FMEA?
Langkah-langkah FMEA adalah sebagai
berikut:
- Identifikasi potensi modus kesalahan
untuk setiap langkah atau input dalam proses anda.
-Ketahui efek dari kesalahan yang
berhubungan dengan modus kegagalan tersebut.
-Identifikasi penyebab potensial dari modus
kegagalan tersebut.
- Buat daftar tindakan dan kontrol yang ada
untuk mencegah terjadinya penyebab potensial tersebut.
-Tetapkan angka-angka yang menggambarkan
besarnya kerugian (severity) dari efek kesalahan, kemungkinan terjadi kesalahan
berulang (occurence), dan kesempatan untuk mendeteksi (detection) modus
kegagalan sebelum menyebabkan defect (cacat).
-Kalikan angka untuk severity, occurence,
dan detection untuk mendapatkan risk priority number (RPN).
-Lakukan perbaikan untuk setiap item yang
memiliki RPN tinggi. Dokumentasikan setiap tindakan yang dilakukan, dan
revisilah RPN.
-Pergunakan dokumen FMEA secara aktif.
FMEA adalah tool yang berguna pada tahap
awal sebuah proyek improvement, karena FMEA mengumpulkan dan mengorganisir data
mengenai proses. Data ini berguna untuk membantu anda mengidentifikasi dan
menetukan cakupan proyek. FMEA juga berguna untuk mengidentifikasi dan
menyaring potensi kegagalan yang bisa terjadi ketika anda telah menyelesaikan
proyek. Pada akhir proyek, anda dapat menggunakan FMEA untuk mendokumentasikan
status proyek, sebagai referensi rencana tindakan, dan mencatat setiap
perbaikan yang dibutuhkan oleh proses di masa depan.
Kesalahan-kesalahan dalam
pengaplikasian FMEA
Satu kesalahan besar yang sering dilakukan
dalam pengaplikasian FMEA adalah menghabiskan waktu membuat dokumentasi dan
kemudian hanya menyimpannya dalam laci atau lemari. FMEA adalah dokumen yang
dinamis, yang tetap diperlukan dan harus digunakan selama proses atau produk
yang terkait dengannya masih berjalan/diproduksi. Maka, gunakanlah!
4. SYSTEMATIC CAUSE & ANALYSIS TOOLS
System cause & analysis tools (SCAT)
adalah Suatu Tool yang digunakan untuk mengevaluasi dan menginvestigasi Incident dengan Menggunakan
SCAT Chart . SCAT dikembangkan dari ILCI (International Loss Control Institute)
Loss caution Mode
CASE STUDY
Kasus kebakaran terjadi pada Gudang Kayu
Ekspor dan Pabrik Gagang Sapu di Bekasi Kasus kebakaran terjadi pada Gudang
Kayu Ekspor dan Pabrik Gagang Sapu di Bekasi, kebakaran tersebut terjadi pada
tanggal 7 september 2006, nyala api mulai terjadi pada pukul 11:30 WIB. Menurut
keterangan yang dihimpun oleh Koran TEMPO api berasal dari hubungan pendek arus
listrik yang kebetulan dalam gudang tersebut terdapat bahan bakar untuk mesin
gergaji, percikan api tersebut menjadi pemicu kebakaran tersebut. Banyaknya
kayu digudang tersebut membuat api lebih cepat merambat dan menghanguskan gudang
seluas 4000 meter persegi.
5. BIRD & LOFTUS-LOSS CAUSATION
Setelah beberapa decade munculnya teori
domino dari Heinrich, kemudian muncul model yang lebih modern yang dikembangkan
berdasarkan model dasar yang dibuat oleh Heinrich. Frank E. Bird dan Robert G.
Loftus mengembangkan model tersebut sebagai berikut :
menurut bird & loftus adalah meliputi kejadian-kejadian mendahuluinya berupa perilaku dan kondisi tidak aman, penyebab-penyebab langsung dan rendahnya kontrol manajemen. teori ini menggarisbawahi atau membedakan antara penyebab langsung dengan peran manajemen. dari teori ini sudah terlihat bahwa pada akhirnya sebuah accident tejadi karena menyangkut sistem manajemen.
6. FISHBONE DIAGRAM
Diagram tulang ikan atau fishbone diagram
adalah salah satu metode / tool di dalam meningkatkan kualitas. Sering juga
diagram ini disebut dengan diagram Sebab-Akibat atau cause effect diagram.
Penemunya adalah seorang ilmuwan jepang pada tahun 60-an. Bernama Dr. Kaoru
Ishikawa, ilmuwan kelahiran 1915 di Tikyo Jepang yang juga alumni teknik kimia
Universitas Tokyo. Sehingga sering juga disebut dengan diagram ishikawa.
Dikatakan Diagram Fishbone (Tulang Ikan)
karena memang berbentuk mirip dengan
tulang ikan yang moncong kepalanya menghadap ke kanan. Diagram ini akan
menunjukkan sebuah dampak atau akibat dari sebuah permasalahan, dengan berbagai
penyebabnya. Efek atau akibat dituliskan sebagai moncong kepala. Sedangkan
tulang ikan diisi oleh sebab-sebab sesuai dengan pendekatan permasalahannya.
Dikatakan diagram Cause and Effect (Sebab
dan Akibat) karena diagram tersebut
menunjukkan hubungan antara sebab dan akibat. Berkaitan dengan
pengendalian proses statistikal, diagram sebab-akibat dipergunakan untuk untuk
menunjukkan faktor-faktor penyebab (sebab) dan karakteristik kualitas (akibat)
yang disebabkan oleh faktor-faktor penyebab itu.
Perusahaan ABC bergerak di bidang
manufaktur. Perusahaan ini memproduksi sepatu olahraga, karena begitu pesatnya
pertumbuhan pasar sehingga memaksa perusahaan ini menjaga kualitas agar tetap
bisa bersaing dengan para pesaingnya. Namun pada kuartal akhir tahun 20xx
perusahaan ini mengalami penuruanan penjualan karena produk dinilai cacat oleh
distributor. Untuk mengatasi permasalahan ini, manajer produksi diminta
menganalisa dan mencari akar permasalahan sehingga banyak produk yang cacat,
sehingga diharapkan penjualan produk awal tahun depan bisa meningkat. Namun
sebelum manajer produksi melakukan analisa, sudah ada evaluasi yang menjelaskan
bahwa banyaknya produk cacat dikarenakan rendahnya kualitas bahan baku sepatu
yang didapat. Manajer produksi, akhirnya menetapkan ingin menggunakan Diagram
Cause and Effect sebagai bahan pencari akar penyebab dari masalah tersebut.
Langkah awal yang dilakukan adalah Manajer produksi menentukan Masalah
yang terjadi. Masalah yang muncul misalnya “ banyaknya produk cacat”.
Langkah ke dua adalah menuliskan masalah tersebut pada kepala ikan yang
merupakan akibat atau effect.
Langkah Keempat. Pada tahap ini manajer produksi
mencari penyebab – penyebab sekunder yang mungkin mempengaruhi penyebab utama.
misalnya kemungkinan penyebab masalah sekunder pada tulang Machine bersumber
dari kerusakan mesin dan kesalahan setting mesin produksi. Kemungkinan penyebab
masalah sekunder pada tulang Metode dimisalkan terkait layout produksi.
Kemungkinan penyebab masalah sekunder pada Tulang Material misalkan disebabkan
oleh dua kemungkinan yakni kualitas bahan baku rendah dan pemasok barang baku.
Sedangkan, kemungkinan penyebab masalah sekunder pada tulang Man Power
dimisalkan berasal dari kemampuan tenaga kerja dan kemampuan mandor.
Pada langkah kelima, manajer produksi
mencari penyebab – penyebab tersier yang mungkin bisa mempengaruhi penyebab –
penyebab sekunder. Jadi terjadi analisis lagi pada tahap ini. Apabila memang
tidak ditemukan penyebab tersier, penyebab sekunder dinyatakan cukup menjadi
akar permasalahan pada tiap pokok tulang permasalahan. Diandaikan hasil
analisis penyebab tersier pada kasus ini yakni
1). Kemungkinan penyebab masalah
tersier pada tulang Machine bagian tulang kerusakan mesin adalah mesin tua dan
mesin tidak diservis dengan rutin. Sedang kemungkinan penyebab tersier pada
tulang kesalahan setting mesin produksi adalah rendahnya pengetahuan tentang
SOP.
2). Kemungkinan penyebab masalah tersier pada tulang Method pada bagian
tulang layout produksi bersumber dari desain layout yang kurang efektif.
3).
Kemungkinan Penyebab masalah tersier pada tulang Material dimisalkan tidak ada,
dan 4) Kemungkinan penyebab masalah tersier pada tulang Man Power bagian tulang
kemampuan tenaga kerja dimisalkan menyangkut keterampilan, pengalaman kerja,
dan motivasi. Sementara penyebab tersier pada bagian tulang kemampuan mandor dimisalkan
juga terkait dengan pengalaman kerja, motivasi, keterampilan dan kepemimpinan.
Pada langkah keenam, manajer produksi menetukan
item-item yang penting dari seiap faktor pada hasil diagram langkah kelima dan
menandai (dalam hal ini diberi warna hijau) bahwa faktor-faktor tersebut yang
paling mungkin mempunyai pengaruh nyata terhadap banyaknya produk sepatu yang
cacat.
Dari diagram tulang ikan di atas dapat
dilihat bahwa ternyata, banyaknya produk cacat tidak hanya disebabkan oleh
material atau bahan baku yang tidak berkualitas, namun juga dipengaruhi oleh
tenaga kerja, metode atau system operasi dan mesin yang digunakan.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar